Hukuman Mati dan Syariat Islam Di Aceh

Hukuman Mati dan Syariat Islam Di Aceh
ACEH, SON – Hukuman Mati untuk pelaku kejahatan seksual menjadi salah satu hal penting yang diungkapkan Anggota Komisi VIII DPR Nasir Djamil saat membuka talkshow bertema Konsep Islam Dalam Menanggulangi Kejahatan Seksual Terhadap Perempuan dan Anak yang digelar di Asrama Haji, Kota banda Aceh, Minggu (21/4/2013). Acara ini digelar dalam rangka Rapat Dengar Pendapat (RDP) sosialisasi empat pilar berbangsa dan bernegara MPR –RI.
 
“Saya lebih sependapat istilah kejahatandaripada kekerasan, apapun namanya, itu (Kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak-anak-red) adalah sebuah kejahatan, kita harus mempublikasikan dan memberitahukan kepada masyarakat bahwa ini adalah sebuah tindakan jahat dan harus mendapat sanksi yang berat yaitu hukuman mati karena ini telah merusak masa depan perempuan dan anak-anak. Bayangkan saja seorang perempuan dirampas keperawanannya dengan cara-cara yang sadis inilah yang disebut merusak kehidupan masa depan,” paparnya
 
Menurut politisi Partai Keadilan Sejahtera ini, masyarakat harus melakukan gerakan bersama dan harus menumbuhkan kesadaran untuk melakukan atau melawan kejahatan seksual kepada perempuan dan anak-anak. Kata Nasir Djamil, gerakan untuk melawan kejahatan ini harus menjadi gerakan inklusif.
 
“Kita agak tercengang ditengah tumbuh suburnya majelis taklim, tumbuhnya ceramah-ceramah, tumbuhnya sekolah-sekolah berlabel islam, training-training tentang islam, ditengah-tengah itu semua muncul juga kejahatan seksual terhadap perempuan dan anak-anak,” tegasnya.
 
“Ada apa? Tentu kita tidak langsung menyalahkan keadaan, daripada kita memaki kegelapan lebih bagus kita menyalakan lilin untuk menerangi lingkungan disekitar kita. Sistem sosial kita sedang sakit, sistem hukum kita sedang sakit parah, hukuman2 terhadap pelaku-pelaku kejahatan masih ringan,” tambahnya.
 
Dalam pernyataannya itu juga politisi asal Aceh ini mengungkapkan talkshow bertema “Konsep Islam Dalam Menanggulangi Kejahatan Seksual Terhadap Perempuan dan Anak” merupakan bagian dari upaya untuk menggali nilai-nilai yang tidak hanya yang tercantum dalam ajaran islam tapi juga apa yang menjadi dasar dari berbangsa dan bernegara.
 
Seminar Internasional
 
Sebelumnya, politisi Partai Keadilan Sejahtera ini berbaur dengan ribuan santri dan sejumlah ulama Aceh dalam seminar internasional bertema “Penerapan syariat Islam di Aceh, Antara Harapan dan kesempatan” di Samalangan, Bireuen, Aceh, Sabtu (20/4/2013).
Dalam seminar tersebut politisi Aceh ini memberikan berbagai usulan terkait dengan Syariat Islam di tanah Rencong itu.
 
“Sesegera mungkin Dinas Syariat Islam  melakukan peninjauan ulang terhadap qanun Aceh yang masih memiliki titik kelemahan,” imbuhnya.
 
Tidak hanya itu, mantan wartawan ini mengusulkan dibentuknya Gampong (kampung-red) percontohan Syariat Islam. Hal ini perlu dilakukan untuk memberikan pemahaman terhadap masyarakat Aceh sendiri terkait dengan Syariat Islam yang diberlakukan di Aceh.
 
“Yang paling penting juga adalah menyiapkan modul Syariat Islam yang konprehensif dan tetapkan pendekatan yang sesuai dalam penerapan Syariat Islam di Aceh,” pungkasnya. (red/njp) 
Selasa, 23 April 2013 - 03:11
http://www.sorotnews.com/berita/view/hukuman-mati-dan-syariat.4942.html