MPR Pertanyakan Pemahaman RSUD Garut Terhadap Sila Kedua Dalam Pancasila!

MPR Pertanyakan Pemahaman RSUD Garut Terhadap Sila Kedua Dalam Pancasila!
JAKARTA, SON - Kasus penolakan oleh Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Garut terhadap pasien bayi bernama Tysa yang mengidap penyakit gizi buruk mendapat keprihatinan mendalam sekaligus keprihatinan dari kalangan Majelis Permusyawaratan Rakyat.

"Saya gagal memahami kasus yang sangat jauh dari nilai-nilai kemanusiaan seperti bisa terjadi di negara yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Bagaimana mereka itu memahami dan menghayati Sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab dalam menjalankan tugas profesionalismenya?," ujar Wakil Ketua MPR, Hajriyanto Y Thohari kepada SOROTnews.com, Selasa (23/10/2012).
 
Menurut Hajriyanto, penelantaran seperti itu sangat tidak patut terjadi di sebuah negara yang Konstitusinya jelas-jelas mengamanatkan bahwa Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak (UUD 1945 Pasal 34 ayat (3). 
 
"Negara juga harus melindungi masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaannya. Sikap menelantarkan pasien semacam itu, apapun alasannya, sungguh sulit untuk dibenarkan," tegasnya.
 
Politisi Senior Golkar ini mendorong Pemerintah untuk  tidak boleh tinggal diam melihat kejadian yang sangat tidak manusiawi seperti itu terus berulang kali terjadi. "Pasalnya kasus seperti ini bukan kejadian baru yang pertama kali terjadi, melainkan sudah berulang-ulang kali terjadi di berbagai tempat," pungkasnya.
 
Tasya Indana Zulfa, bayi berusia tiga bulan penderita hidrosefalus dan gizi buruk terpaksa dibawa pulang kembali neneknya, Onah (40) dari RSUD dr. Slamet Garut ke rumahnya di kampung Munjul, Rt 01 Rw 14, Desa Banyuresmi, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, Senin (22/10/2012).
Menurut Onah, Pihak Rumah Sakit beralasan bahwa seluruh kamar perawatan yang ada di rumah sakit tersebut semuanya telah terisi penuh.
 
Onah pun menuturkan,  sebelum dibawa ke RSUD dr. Slamet Garut, pada pagi harinya pihak keluarga sempat membawa Tasya ke Puskesmas Bagendit, Kecamatan banyuresmi. Namun karena sakitnya sudah cukup parah dan juga peralatan medis yang ada di Puskesmas tersebut tidak memadai akhirnya Tasya dirujuk ke RSUD dr. Slamet Garut
 
Setelah mendapat pemeriksaan secukupnya, Tasya dinyatakan mesti menjalani rawat inap, namun petugas disana mengatakan bahwa semua kamar perawatan telah terisi penuh. Saat itu Onah pun berusaha agar Tasya bisa diberikan infisan, namun dokter mengatakan Tasya bisa di infus asal sambil digendong dan berdiri.
 
“Saat itu saya menolak karena merasa tak sanggup , masa saya harus menginfus Tasya sambil berdiri.  Lagipila saya berpikir malah takut terjadi ada apa-apa nantinya dengan Tasya,” Ujar Onah saat ditemui SOROTnews Jabar dirumahnya, Senin (22/10/2012).
 
Merasa bingung, akhirnya Onah pun bertanya bagaimana jalan keluarnya pada dokter yang menyarankan untuk menginfus cucunya sambil berdiri itu.
 
Namun Onah sama sekali tak menyangka dengan jawaban sang dokter yang berkata, ” Jalan keluarnya ya tinggal jalan kaki saja lurus kesana,” ujar Onah sambil menirukan jawaban si dokter yang menunjukan telunjuknya kearah pintu keluar.
 
Mendengar saran Dokter yang seperti itu, dengan hati yang kecewa.  Onah menggendon cucunya pulang. Ia pun  meninggalkan RSUD dr. Slamet dengan mengikuti arah jalan keluar yang ditujukan tenaga medis tadi. (Ninding Julius Permana)
Rabu, 24 Oktober 2012 - 02:38
http://www.sorotnews.com/berita/view/mpr-pertanyakan-pemahaman.3872.html