Puisi-puisi Rieke Diah Pitaloka

Puisi-puisi Rieke Diah Pitaloka
PUISI
 
Londo Ireng
 
di timur
tak ada matahari
barat mengemasnya jadi:
sebungkus burger
sekaleng soft drink
sekerat steik
segelas wine
 
di timur
tak kujumpai matahari
barat mengunyahnya
barat menelannya
barat memuntahkannya jadi:
limbah kemiskinan
dan tanah
dan air
yang di atas
yang di bawah
di dalam bumiku
sudah digadai
budakbudak
kulit coklat
otak putih
 
di timur
matahari tak lagi terbit
barat mengunyahnya
barat menelannya
barat memuntahkannya
jadi:
kami makin miskin
 
tol jagorawi 170305 19:26
 
 
Karawang
 
aku masih terbayang
anak kecil kerontang
di siang
di pinggir jalan kota karawang
anak kecil
bajunya usang
kulit matang
terpanggang
tubuh kecil
di atas timbunan botol plastik menjulang
wajah kipasi asap knalpot garang
 
anak kecil kerontang
di siang
di pinggir jalan kota karawang
 
beginikah karawang jelang waktu benderang?
saat serombongan pemuda
gelandang dua lelaki
agar berani lantang
 
lekas bung,
bunyikan genderang
biar orang-orang kelak kenang
kebebasan bukan cumacuma
bukan kebetulan
bukang hasil ongkangongkang
ini hasil perang!
 
Soekarni
Wikana
Chairul Saleh
Jusuf Kunto
Shodancho Singgih
Chudanco Soetjipto
Shodancho Sulaiman
Chudancho Subeno
Shodancho Suharjana
Shodancho Oemar Bahsan
Shodancho Affan
Budancho Martono
 
karawang 1945
rumah djiaw kie shiong
karawang 2010
rumah plastic anak kecil kerontang
 
 
Sumpah Saripah
 
tak akan berhenti di sini
terlanjur kutoreh ikrar
pada ibu yang dihisap putingnya
hingga kering susunya
hingga kerontang payudaranya
hingga nanah yang tersisa
untuk adik yang busung
yang lahir saat bapak mati diteror tbc
 
tak akan berhenti di sini
terlanjur kutoreh ikrar
pada bapak
yang dirampas ladangnya
hingga rumah mesti digadai
hingga cangkul jadi kayu bakar
hingga nisan yang tersisa
untuk adik yang kurus
yang lahir saat dusun makin miskin
 
tak akan berhenti di sini
terlanjur kutoreh ikrar
pada dusun
yang digusur jadi pabrik
hingga embun dibunuh asap
hingga kali jadi bau dan pekat
hingga sampah yang tersisa
untuk adik yang lapar
yang lahir saat aku pergi mengadu nasib
 
tak akan berhenti di sini
terlanjur kutoreh ikrar
pada diri
yang bertahun jadi babu
hingga punggung penuh luka
hingga kuping tersumpal cacian
hingga sumpah yang tersisa
untuk adik yang menunggu
menunggu aku pulang
menunggu oleholeh parang
buat penggal tuan berhati arang!
 
jakarta-wisma mampang 170305
 
 
*Tiga puisi di atas dilansir dari buku sajak “Sumpah Saripah” karya Rieke Diah Pitaloka yang terbit Maret 2011 silam.
Minggu, 17 Juni 2012 - 22:36
http://www.sorotnews.com/berita/view/puisi-puisi-rieke-diah.336.html