Santri di Sumenep Beri Waktu Kapolri 2x24 Jam untuk Minta Maaf !

Sabtu, 21 Juli 2012 - 21:16
Santri di Sumenep Beri Waktu Kapolri 2x24 Jam untuk Minta Maaf !
Sumber gambar : Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Timur Pradopo/Istimewa
SUMENEP, SON - Alumni Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-guluk, Sumenep, Madura, Jawa Timur, melayangkan surat ke Kapolri, terkait ditolaknya lulusan Madrasah Aliyah (MA) 2 Annuqayah saat mendaftar sebagai calon Brigadir Brimob dan Dalmas di Polres setempat.

"Hal itu jelas sudah melanggar Undang-undang Dasar 1945 dan undang-undang Sistem Pendidikan Nasional," ujar Juru bicara jaringan alumni Annuqayah, Muhri Zain, Jumat (20/7). Ia menjelaskan, penolakan terhadap lulusan MA 2 Annuqayah tersebut merupakan insiden nasional dan tindakan diskriminatif aparat Kepolisian.

Karena itu, tegas Muhri, pihaknya melayangkan surat pada Kapolri, dan meminta agar Kapolri mengakui kesalahannya dan meminta maaf secara terbuka pada seluruh alumni Annuqayah.
 
"Polri secara institusi sudah melakukan kesalahan. Kapolri harus mengakui itu, kemudian meminta maaf secara terbuka pada alumni dan lembaga pondok pesantren Annuqayah. Kami memberi batas waktu selambat-lambatnya 2x24 jam," ujarnya.

Bahkan, Muhri juga meminta agar Kapolres Sumenep dan Kapolda Jawa Timur mundur dari jabatannya, terkait persoalan tersebut. "Ini sebuah kesalahan. Kapolres Sumenep dan Kapolda Jawa Timur sebagai pemegang tongkat komando wilayah harus bertanggungjawab dengan cara harus mundur dari jabatannya," tegasnya.

Selain itu, Muhri juga menuntut agar Polri membatalkan hasil rekrutmen pelaksanaan penerimaan Brigadir Brimob dan Dalmas angkatan 2012 di Sumenep. Rekrutmen tersebut dinilai sudah cacat hukum. Karena itu, hasil rekruetmennya harus dibatalkan.

Sebelumnya, Moh. Azhari, alumni Madrasah Aliyah 2 Annuqayah Guluk-guluk, ditolak saat mendaftar ke Polres Sumenep sebagai calon Brigadir Brimob dan Dalmas.

Moh. Azhari ditolak saat mendaftar, diduga akibat adanya point persyaratan yang berbunyi: 'Khusus untuk lulusan pondok pesantren, sesuai dengan Surat Departemen Pendidikan Nasional, yang diakui setara dengan SMU dan diperbolehkan mendaftar menjadi anggota Polri antara lain Ponpes Gontor Ponorogo, Ponpes Al- Amin Prenduan Sumenep, Ponpes Mathabul Ulum Sumenep, dan Ponpes Modern Al- Barokah Patianrowo Nganjuk. Sedangkan nama Annuqayah yang dikenal sebagai pesantren besar di Sumenep, tidak tercantum.
 
Padahal ijazah Moh. Azhari, tertulis dengan kop Kementerian Agama, dan menerangkan jika yang bersangkutan merupakan lulusan Madrasah Aliyah 2 Annuqayah Guluk-guluk, bukan pondok pesantren Annuqayah Guluk-guluk. Dalam ijazah tersebut, juga tertera nilai sejumlah mata pelajaran, termasuk juga tertulis nilai ujian nasional yang diselenggarakan Pemerintah.
 
Kementerian Agama Kabupaten Sumenep menyatakan jika ijazah Madrasah Aliyah 2 Annuqayah tersebut merupakan ijazah yang diakui negara dan setara dengan SMA. (Rafiqi Tanziel/Ninding Julius Permana)
Komentar
 
Berita Terkait

Bentrok, DPR Desak Panglima TNI dan Kapolri Cari Akar Masalah

31 Agu 2015 - 16:32 · Bentrok antara TNI dan Polri sudah sering terjadi, bahkan sampai meninggal dunia. Karena itu,...


Kapolri: Radikalisme Secara Agresif Merongrong Pancasila

28 Agu 2015 - 17:00 · Kapolri Badrodin Haiti menegaskan langkah sosialiasi Empat Pilar MPR RI ini strategis agar peserta...


Badrodin Haiti Jamin Netralitas Polri Dalam Pelaksanaan Pilkada Serentak

05 Jul 2015 - 16:48 · Kapolri Jenderal Badrodin Haiti menjamin kenetralan anggota Polri dalam pelaksanaan pilkada...


DPR Setujui Badrodin sebagai Kapolri

16 Apr 2015 - 17:57 · Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon yakin Presiden Jokowi akan segera melantik Komjen Pol Badrodin Haiti...


Presiden RI Memiliki Hak Tentukan Wakapolri?

13 Apr 2015 - 19:27 · Pakar Hukum Tata Negara dari Universitas Parahyangan, Bandung,Jawa Barat, Asep Warlan Yusuf...


 
 
tshirthangout-banner_300x250